Tampilkan postingan dengan label my charlie angels. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label my charlie angels. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 September 2008

Yang Tak Selalu Sama


Apa kabar kembar..akhir-akhir ini ayah tidak pernah menulis tentangnya...Ya..anakku selain Nasywa yang paling gede dan adiknya Nadira dan Nabila, si kembar yang juga sering berantem dengan alasan yang sepele dan standard banget untuk kategori anak kembar. Ada yang gara -gara rebutan pensil, baju yang ketukar dan banyak kejadian-kejadian yang membuat si kembar berantem. Berikut mungkin saya ceritakan pengalaman mempunyai anak kembar:

Hubungan dengan sang kakak.
Meskipun lahir dengan satu placenta atau orang bilang kembar identik, namun sifat dan watak Nadira dan Nabila sangat berbeda. Perbedaan sifat ini pula yang mempengaruhi pola hubungan si kembar dengan kakaknya (Nasywa). Sebelum saya menulis lebih lenjut tentang hubungan si kembar dengan kakaknya, sebaiknya saya uraikan dulu sifat yang berbeda ini.

Nadira:
sifatnya banyak omong, perhatian ke dalam/keluarga lebih besar, lebih dekat ke ayahnya (menurut saya pribaadi), patuh dan disiplin dalam hal mandi, tidur siang dan malam termasuk ketika buang air kecil/pipis, agak penakut/cengeng, perlu waktu lama untuk beradaptasi dengan orang baru cenderung suka main di rumah.

Nabila:
Sifatnya banyak ngomong juga, tetapi perbendaharaan kata lebih banyak seperti seumuran anak SD, orangnya “tengil” suka iseng, lucu dengan kelakuannya, tidak cengeng, patuh tetapi kadang kurang disiplin seperti jarang tidak mau tidur siang, sehabis bangun tidur tidak langsung mandi dulu , gampang akrab dengan orang baru.

Dari beberapa perbedaan sifat di atas, kira-kira bisa ketebak mana yang lebih dekat dengan sang kakak? Jawabnya Nabila, karena dia gampang bergaul dengan orang baru. Sementara sang kakak (Nasywa) kadang ada temennya yang main ke rumah, kalau si Nadira lebih dekat ke bunda kadang juga malah suka main dengan mbak-nya (pembantu). Tetapi ketika mereka bermain di rumah bertiga, tentunya si kembar lebih “soul mate” dengan kembarannya, misal Nabila sedang berantem dengan kakaknya biasanya Nadira membela “kembarannya” begitu pula sebaliknya.


Hubungan sosial
Alhamdulillah saya mempunyai anak kembar, keduanya tidak merasa “kuper”, karena sejak awal saya sudah commit bahwa mereka harus bersosialisasi juga dengan teman mainnya di luar rumah. Dan saya yakin dampak “tidak kurang pergaulan” ini juga mungkin dari sang kakak (Nasywa), ketika kakaknya main di luar keduanya ikut main, begitupula ketika teman sang kakak (Nasywa) main di rumah si kembar akhirnya ikut bergabung juga. Ini mungkin si kembar masih punya kakak atau terlahir dengan urutan anak ke-2 dan ke-3. Entah apa jadinya seandainya Nabila & Nadira sebagai anak ke-1 dan ke-2, mungkin mereka cenderung keasyikan bermain di rumah berdua.
Katika kembar bermain di luar, keduanya tidak pisah dipisahkan. Dipastikan selalu bermain bareng jarang saya menemui Nadira bermain terpisah dengan Nabila ketika mereka bermain di luar rumah. Ini yang menjadi kekhawatiran saya, pernah ketika si Nadira & Nabila ikut lomba 17-an, mereka ikut lomba memasukan bendera ke dalam botol. Si Nadira masuk semi final semantara Nabila tidak , anehnya ketika mau di mulai itu lomba si Nadira tidak mau mengikuti lomba dengan alasan si Nabila tidak ikut lagi. Berbagai bujukan oleh panitia termasuk saya yang juga menonton tidak mau juga...akhirnya terpaksas Nadira tidak meneruskan lombanya alias diskualifikasi dengan alasan sepele...
Dari peristiwa di atas lantas saya berpendapat ternyata sudah benar-benar “soul mate” si kembar nih, tidak terpisahkan. Tetapi saya berharap kejadian di atas seharusnya tidak berpengaruh terhadap hubungan si kembar, seharusnya mereka mandiri dan tidak tergantung sesama kembarannya.

Berantem sesamanya
Apakah anda pernah melihat anak kembar sedang berantem? Tak ubahnya sama dengan anak-anak lainnya. Seru! sekaligus was-was, bagaimana tidak..ketika mereka berantem untuk masalah yang kecil ujung-ujungnya dengan cepat tangan menarik rambut kembarannya.

Biasanya mereka berantem karena rebutan pensil meskipun keduanya sudah memiliki satu-satu, baju yang tidak bisa di tukar dengan kembarannya, kadang juga keisengan Nabila yang selalu menggoda kakaknya Nadira. Disisi lain sifat Nadira yang agak manja dan gampang tersinggung sementara Nabila orangnya suka iseng. Keisengan ini terjadi ketika mereka berantem, Nadira seketika itu memukul badan Nabila, sementara Nabila sembari berucap..”he gak sakit.., he gak sakit..” akhirnya berkejaran tak ubahnya seperti harimau menangkap mangsanya, Nadira semakin emosi kadang sambil menangis melakukan “serangan” lagi ke Nabila sambil berucap..”he gak sakit.., he gak sakit..” di sertai tawa sambil mengejek.

Tetapi ketika Nadira semakin kencang tangisannya saya jadi semakin ngeri melihatnya..ujung-ujungnya ditariknya rambut Nabila akhirnya sebuah “pertempuran telah usai” dengan gegap gempita suara tangisan keduanya pecah di dalam rumah. Biasanya kalau saya atau istri melihat kejadian seperti ini langsung saya lerai.

Anak kembar memang kalau di lihat secara fisik orang lain mengatakan persis/mirip sementara saya dan istri sebagai orangtua kembar dengan mudah membedakan bentuk fisik Nadira dan Nabila. Kadang saya juga menasihati keduanya, bahwa anak kembar itu tidak boleh berantem karen aketika lahir si kembar juga “tidak berantem” dalam perut bunda.. Tetapi namanya juga anak kecil, malah mereka sering bertanya yang lucu-lucu, maklum Nadira dan Nabila baru berumur 3,5 tahun.

Jumat, 30 Mei 2008

Hari ini,1101 hari umur si kembar


Sekitar bulan maret 2005
Waktu itu saya baru pulang kampung, tiba tiba ada SMS masuk yang isinya sangat membikin aku gembira sekaligus was-was. “Mas tadi aku di USG anak kita besok kembar..bagaimana kabar bp/ibu di solo..”, begitulah isi sms tersebut. Langsung saja aku konsultasikan ke orang tua, beliau bilang memang di keluarga kita ada keturunan kembar. Tak lama kemudian aku menghubungi via telepon bulik dan sepupu saya yang kebetulan mereka punya anak kembar juga. Isi pembicaraannya tak lepas dari masalah anak kembar, mulai dari mengandung sampai merawatnya. Ada satu hal yang menarik dari beberapa pembicaraan tersebut, bahwa punya anak kembar itu tidaklah harus diistimewakan dibandingkan dengan anak yang lainnya. Biarkan mereke berkembang secara wajar. Masukan dari bulek yang menurut saya sudah “berpengalaman” mengurus anak kembar hampir 22 tahun (karena saat ini anak tersebut sudah berada di bangku kuliah), sedangkan dari sepupu saya anak tersebut sudah berumur sekitar 3tahun. Kiranya bisa menjadi bahan pertimbangan untk mendidik calon anak kembar saya di masa yang akan datang.


Masa awal kehamilan yang menakjubkan
Seperti biasanya bagi seorang ibu awal -awal masa kehamilan disertai dengan muntah-muntah, begitu juga dengan istri saya. Sebenarnya usia kehamilan dari 1 sampai menginjak 7 bulan tidak ada tanda-tanda mencurigakan dalam kandungannya. Kendatipun di usia kandungan tersebut aktivitas istri saya berjalan normal bahkan bisa dikatakan lebih. Karena waktu itu disamping disamping bekerja ada juga kuliah ekstension dengan waktu yang sangat padat dari hari Senin sampai Sabtu, kampus yang terletak di Rawamangun membuat istri saya yang sedang mengandung terasa semakin berat, kesibukan semakin bertambah disertai usia kandungan yang bertambah pula. Ini bisa saya bayangkan dengan jarak Cibubur - Rawamangun yang tidaklah dekat, sementara alat transportasi terkadang naik angkot, naik sepeda motor kadang juga saya antar naik mobil. Aktivitas tersebut dilalui setiap hari akhirnya sampai rumah sudah capai, suatu ketika ada berita yang membuat saya kaget. Waktu itu saya sedang di kantor ada informasi melalui radio ada kecelakaan di sekitar pintu tol taman Mini. Tak ada firasat apapun dalam diri saya waktu itu, tak lama kemudian saya dihubungi istri, bahwa ternyata peristiwa yang diberitakan di radio tersebut salah satu penumpangnya adalah istri saya. Astagfirullah!. Langsung saja saya meluncur dari kantor menuju RS UKI Cawang, dan alhamdulillah istri saya selamat, hanya menderita memar bagian tangan kirinya sementara baju dan celana panjang banyak terkena darah dari penumpang lain.
Ada yang menarik dari cerita diatas, saat itu istri saya dalam keadaan hamil usia kandung sekitar 5 bulan. Saya bisa membayangkan bagaimana syok istri saya setelah kejadian tersebut. Dan yang aneh lagi dalam kandungan tersebut terdapar 2 janin (2 calon bayi kembar) yang waktu itu tidak diketahui oleh istri dan saya. (Kehamilan dengan 2 janin dalam 1 kantung diketahui setelah usia kandungan 7 bulan melalui USG).Melalui pertolongan-Nya istriku dan calon bayi yang dikandungnya alhamdulillah sehat dan selalu rutin kontrol tiap bulan.
Setelah kandungan menginjak usia 7 bulan dan diketahui ada 2 janin dalam kandungannya. Aktivitas istri saya berubah 180 derajat. Apa jadinya jika kehamilan kembar diketahu saat usia kehamilan masih muda, mungkin saya atau istri akan memutuskan utuk berhenti sementara kuliah. Ada yang berubah drastis dalam diri istri saya saat itu. Dalam kegiatan dan aktivitas istri saya ekstra hati-hati, begitu juga dengan saya. Setiap hari saya mengantar jemput terkadang menunggu seharian disaat sedang kuliah. Ini semata untuk menjaga kondisi istri dan bayi yang dikandung dalam keadaan normal sampai melahirkan.

Selamat datang si kembar
Menginjak usia kehamilan 7 bulan semakin terasa hentakan (mungkin tendangan) dari janin dengan arah berlainan. kadang diatas, disamping kir1 atau kanan yang gerakan tersebut bisa dirasakan oleh tangan kita disekitar perut sang ibu. Bagi saya masa -masa kehamilan saat itulah kita harus ekstra hati-hati.selama menginjak usia kehamilan semakin tua kontraksi gerakan bayi semakin kuat, sementara kontrol tiap bulan seperti biasa tidak ada masalah yang dialami. Ketika kontrol bulanan ke dr. Satria Alam Pohan (dokter spesialis kandungan RS Pasar Rebo) beliau menyarankan sekitar 1 bulan lagi usia kandungan sudah cukup umur. Kemudian saya berkonsultasi berbagai permasalahan tentang bayi kembar dan persiapan apa saja yang diperlukan. Mungkin masukan dari dr. Alam yang menurt saya “biasa-biasa saja” karena sebelumnya informasi tentang bayi kembar terus saya cari dan baca dari internet, saya pun tidak panik atau stres, semua saya hadapi seperti adanya, begitu pula dengan istri saya.
Hari berjalan waktu semakin cepat, disaat usia kelahiran kurang dari 2 minggu dan sesuai jadwal kontrol rutin. Akhirnya saya dengan istri berangkat ke RS Pasar Rebo, seperti biasanya setelah diperiksa dr. Alam memanggil saya, beliau mengatakan bahwa usia kandungan sudah cukup untuk “dilahirkan” dengan menggunakan kelahiran caesar. Saya tidak kaget mendengar istilah kelahiran caesar karena anak saya yang pertama menggunakan teknik kelahiran ini dan kebetulan ditangani oleh dr. Alam juga. Setelah menentukan jadwal operasi caesar kami pun menyiapkan perlengkapan yang akan dibutuhkan.
Menunggu semalam di ruang Teratai 616 RS Pasar Rebo, Senin, 22 Mei 2005 merupakan masa-masa yang menegangkan karena sekitar pukul 10.00 WIB besok paginya operasi Caesar akan dimulai. Saya menunggu dengan cemas sekaligus bahagia karena dalam hitungan menit peristiwa besar akan terjadi bagi istri maupun saya. Sekitar pukul 10.20 WIB handphone saya berdering langsung saya angkat, ternyata telepon dari Bang Guntur (seorang anestesi yang ikut membantu jalannya operasi istri saya yang kebetulan masih saudara).”Rud..selamat ya..cewek lagi nih...”.Puji syukur kepada Allah saat itu juga langsung terucap, samar-samar terdengar tangisan kedua bayi kembar yang selama ini saya nantikan.Beberapa menit kemudian kemudian handphone berdering lagi, akhirnya saya disuruh masuk untuk melihat kedua bayi tersebut, padahal menurut aturan belum diperbolehkan oleh rumah sakit.
Ketika melihat kedua bayi di dalam box seketika itu juga air mata saya menetes, karena ukurannya yang bayi kecil dan masih terlihat jelas sisa darah (saya tidak tahu darah atau bukan) masih menempel di telinga dan sebagian rambut yang masih basah kedua bayi tersebut.Tak lama kemudian istri saya terlihat masih sadar berbaring di tempat tidur dorong, dan ternyata dalam operasi caesar tersebut istri saya masih setengah sadar sampai bayi G1 diangkat masih bias terdengar jelas. Karena begitu operasi selesai istri langsung menanyakan kondisi bayi kepada saya. Dengan lengkingan suara keras saya amati keduanya sambil meneteskan air mata, setelah itu saya lafalkan adzan di telinga kanan dan iqomah di telinga kiri. Akhirnya penantian yang panjang telah usai kecemasan pun telah berakhir, tinggal menunggu tangisan bayi sepanjang pagi hingga malam menghiasi suara di rumah.

Masa menyusui
Melihat kondisi istri dan bayi kembar yang cukup sehat hati saya semakin tenang, walaupun saat itu si kembar sudah berada di dalam box penghangat layaknya seperti bayi normal biasa.Dari sekian banyak bayi yang berada di ruang bayi tersebut hanya si kembar saja yang gampang dibedakan karena mereka berdua dalam satu box. Pada saat dilahirkan berat badan bayi tersebut 1,9 kg dan 2,3 kg betapa kecil bentuk badan si kembar sampai ada saudara mengatakan “Gak papa walupun bayinya segede botol kecap yang penting sehat..” , saya selalu berdoa semoga kondisi kesehatan bayi dan istri selalu sehat.
Kamar no. 616 ruang Teratai hari itu semakin banyak yang datang untuk membezoek sementara kondisi istriku tampak sehat sesekali istri diperbolehkan menengok si kembar di ruang bayi untuk menyusui. Seperti biasanya masa -masa menyusui istri saya sangat rajin dan telaten, tetapi lama kelamaan ASI yang ada jumlahnya tidak banyak, berbagai macam telah diusahakan baik minum pil lancar ASI atau makan sayur-sayuran untuk memperlancar ASI. Akhirnya saya berkonsultasi ke dokter, beliau bilang mungkin istri saya stres, cemas atau trauma, tetapi saya amati istri dalam keadaan senang dengan kelahiran si kembar dan dalam kondisi sehat. Selang dua hari akhirnya si kembar bisa digabung di ruang Teratai 616 yang menurut saya ruangan itu cukup dingin dan belum siap untuk bayi, tetapi setelah saya berkonsultasi, dokterlah yang memberi saran asal suhunya standard selain itu agar ikatan emosional antara bayi dan ibu semakin dekat.
Saya amati pergelangan tangan si kembar distu tertera Gemelli 1 dan Gemelli2
Hampir sebulan istri saya menyusui sengan ASI tetapi bukanya semakin banyak yang keluar melaikan semakin berkurang akhirnya semakin sering menggunakan susu formula. Semenjak itu ASI tidak keluar sama sekali dan si kembar menyusui dengan susu formula, setelah saya amati ternyata semenjak kelahiran anak pertama memang istri saya tidak menggunakan ASI karena memang tidak keluar banyak.

Gaya hidup multi ekstra
Mempunyai anak kembar tentunya lain dalam soal biaya, mengasuh dan membesarkannya dibanding dengan anak biasa. Anak kembar lebih banyak biaya yang kita keluarkan karena bagaimanapun juga kita harus mengeluarkan dua kali lipat. Tetapi menurut saya tidak semua pemenuhan kebutuhan si kembar harus serba ekstra, ada beberapa bagian yang kita perlakukan biasa saja. Satu yang tidak bisa ditunda dan tidak bisa tahan adalah kebutuhan susu, karena berat bayi kembar lebih kecil dibanding bayi biasa maka kebutuhan susu formula harus sesuai dengan kebutuhan bayi. Hal ini yang membuat saya agak kaget, karena susu formula untuk bayi kembar “cukup” mahal dibanding susu biasa.
Mengenai perlengkapan lainnya saya usahakan satu bayi untuk satu tempat (mis. kereta bayi) tetapi ada juga satu tempat untuk mereka berdua (mis. box tidur bayi, bak mandi).Pakaian bayi sejak awak saya sudah sepakat sama istri bahwa seandainya kita membeli baju harus lebih tetapi dengan motif dan warna dibedakan. Sejak awal saya sudah berprinsip bahwa keseragaman membuat kita menjadi monoton tidak ada variasi dan merasa ketergantungan karena mempunyai kesamaan, maka saya usahakan untuk dibedakan sejak awal.

Si kembar yang tidak kembar
Awal - awal kelahiran si kembar selain direpotkan dengan tangisan dan rengekan satiap hari juga direpotkan oleh bentuk dan kondisi fiisik si kembar. Ketika mereka digabung di ruang Teratai 616 (bersama dengan si ibu) yang pertama saya amati adalah membedakan bentuk dan ciri -ciri fisik yang membedakan si kembar, ternyata ada perbedaan -perbedaan yang membuat saya bisa sedikit lebih bisa membedakan salah satunya G1(gemmeli 1) bentuk muka agak bulat, kepala begitu juga agak simetris, sementara bayi G2 bentuk muka agak panjang, sementara bentuk kepala kurang rata dibelakang (peang). Salah satu yang sangat membedakan dari kedua bayi tersebut adalah di bagian lengan kanan G2 terdapat tahi lalat yang apabila tidak memakai baju bisa terlihat. Hampir semua bahkan termasuk istri saya, di hari-hari pertama kelahirannya masih susah membedakan.
Seiring dengan berjalannya waktu dan kondisi wajah bayi yang masih labil bisa berubah bentuk wajahnya lama kelamaan bisa juga kita membedakan si kembar. Ada hal yang sangat menarik ketika mereka pulang dari rumah sakit yaitu bagaimana membedakan sementara bentuk badan mereka , akhirnya saya tandai G1 dan G2 dengan gelang plastik di kakinya. G1 memakai gelang warna merah dan G2 memakai gelang warna putih hampir sebulan lebih mereka berdua memakai gelang tersebut, akhirnya saya ganti yang lebih permanen dengan memakai anting yang saya bedakan G1 memakai anting polos sedangkan G2 memakai anting yang ada bijinya (bulat) bahkan sampai sekarang G1 dan G2 masih memakai anting tersebut.
Sampai saat ini saya dan istri sudah bisa membedakan si kembar langsung tanpa harus melihat antingnya, tetapi ketika saya jarang bertemu, mis. sehabis pulang dari kantor, harus kita amati dahulu baru bisa membedakanannya. Banyak pertanyaan dari temen dan tetangga yang hampir sama, jangan -jangan kedua orangtuanya belum bisa membedakan anaknya, tetapi saya dengan yakin bisa jawab “bisa!” karena saya sudah biasa sementara orang lain jarang bertemu.

Haruskah bernama sama?
Pada prinsipnya anak kembar itu mempunyai jiwa dan sifat yang berbeda keduanya akan berpisah tatkala mereka menginjak dewasa dan berjalan dengan kehidupannya masing -masing. Tetapi banyak orangtua yang selalu memberi nama yang hampir sama ketika mereka mendapatkan istrinya lahir dengan anak kembar, sah-sah saja ini mungkin karena ungkapan rasa kegembiraan kedua orangtua tersebut dan wajar bila akhirnya mereka memberikan nama yang hampir mirip. Menurut saya pribadi pemberian nama anak kembar yang hampir sama tidak saya khawatirkan dan wajar-wajar saja, justru mempunyai nilai lebih dan memberi ciri khas pada anak tersebut. Orangtua pasti menginginkan atau memberi nama kepada anaknya dengan harapan nama tersebut bisa membawa makna, langkah dan harapan yang baik kelak dikemudian hari. Anak saya mempunyai nama yang hampir sama pula G1 dengan nama Nabila Rusyifaa Dewani yang berarti anak yang berharga/jarang ada berhati mulia sedang G2 dengan nama Nadira Rusyifaa Dewati yang berarti anak cerdas yang terselubung kemuliaan.
Sebagian orang berpendapat mempunyai nama yang hampir sama bisa menimbulkan ketergantungan suatu saat, tetapi kalau saya berpendapat lain bahwa ketergantungan anak bukan dari pemberian nama yang hampir sama tetapi bagaimana cara mendidiknya, pola pengasuhan serta kebiasaan orang tua yang selalu menyamakan/keseragaman pada si kembar.Bisa saja kita bikin beda nama anak kembar walaupun kita memberi nama anak kembar tersebut hampir sama. Misal anak G1 kita panggil nama depannya sedang anak G2 kita panggil nama tengah atau nama belakangnya. Dari pangilan sehari-haru\i yang sudah beda ini saya yakin berpengaruh pula terhadap si kembar. “Apalah artinya sebuah nama..” begitu menurut Shakespeare. Dan perlu digarisbawahi bahwa “anak kembar itu beda tetapi disisi lain ada pula kesamaannya”, mereka boleh jadi secara fisik sama tetapi sifat dan tingkah lakunya beda, dan sampai sekarang saya selalu tidak menyamakan si kembar, mulai dari baju sampai tempat tidur yang selalu dipisah secara bergantian..

Repotnya mengurus si kembar
Mempunyai anak satu saja repot apalagi dua anak sekaligus, begitulah kata sebagian orang. Banyak factor yang membikin kita merasa repot tergantung dari anak ke berapa ketika anak kembar tersebut lahir. Sebuah keluarga bisa dikatakan sempurna ketika mereka mempunyai anak dan setiap keluarga tentu mempunyai batasan atau kriteria sendiri tentang berapa jumlah anak yang ideal bagi keluarga mereka. Ada yang mengatakan sebuah keluarga idealnya mempunyai anak dua adapula yang mengatakan tiga. Nah apabila kehadiran anak kembar tersebut mungkin anak yang pertama dan kedua dari sebuah keluarga mungkin tidak begitu repot jika dibanding dengan anak kembar yang kehadiran dalam keluarga itu sebagai anak yang kedua dan ketiga atau ketiga dan seterusnya, saya yakin bagaimana repotnya kedua orangtua tersebut.
Hal inilah yang membikin saya merasa kewalahan ketika mengurus anak kembar, karena perlu diketahui bahwa kehadiran anak kembar dalam keluarga saya adalah anak yang kedua dan ketiga, sedang anak yang pertama masih berusia 5 tahun ( Taman Kanak-kanak). Bisa saya bayangkan bagaimana repotnya mengurus ketiga anak tersebut sementara anak yang pertama masih belum bisa mandiri. Dan anak pertama sangat mempengaruhi kondisi dari perkembangan adiknya (si kembar) termasuk masalah kesehatannya.
Saya sering mengamati kenapa si kembar sering sakit atau gampang sakit ternyata hampir dipastikan penyebab sakit si kembar selalu berasal dari anak yang pertama, kalau anak pertama sudah sakit saya selalu berusaha mengisolasi dia dengan si kembar agar penyakit/virus tersebut tidak menular kepada si kembar. Tetapi sering usaha ini sia-sia, namanya anak kecil akhirnya sampai juga penyakjit tersebut ke si kembar, akhirnya kita direpotkan karena ketiga anak tersebut menjadi sakit semuanya.
a.Strategi memberi makan
Mempunyai anak kembar selain cara mengurusnya yang repot, ternyata mempunyai pola makan yang unik disbanding dengan anak-anak lain.

Rabu, 07 Mei 2008

"Enggak ah..ada kumisna!"


Sepertinya tak ada hari yang terlewatkan disaat-saat aktivitas semakin hari terus bertambah. Tak terasa hari sudah mulai baru lagi di awal bulan, sementara bulan sudah mau berada di tengah-tengah tahun. Tak terasa pula ketiga buah hatiku juga sudah mulai beranjak dewasa, masih ingat dalam ingatan, baru kemarin Nasywa ulang tahun yang ke-7 sekarang gantian si kembar Nadira dan Nabila yang mau ulang tahun ke - 3. Sebenarnya si kembar tidak banyak tahu tentang ulang tahunnya, tetapi sebagai orangtua kita juga pingin kalo mereka ingin merayakannya walaupun dengan cara yang sederhana. Kalo saya sendiri dan nyonyah pingin sih cuman makan malem bareng sama pakde dan budenya lesehan di Pondok Laras, toh juga sudah berapa lama kita jarang makan malam di sana.

Kembarku, sekarang mereka sudah bisa main berdua. Main sepeda berboncengan dengan kakaknya, begitu pula Nasywa kadang sering becanda dengan adiknya, kadang sampai kelewatan yang membuat Nabila selalu menangis. Namanya juga anak kecil. Menginjak umur yang ketiga ini makin terlihat banyak perbedaan yang ada pada diri si kembar. Si Nabila paling gak suka makan/minum asem-asem. Sementara Nadira kebalikannya. Nadira suka main sepeda sementara nabila lebih suka main masak-masakan sama si Nasywa kakaknya. Nabila suka becanda, dan juga suka "tengil" kelakuannya tetapi jarang tidur siang, sementara Nadira gampang ngambek tetapi selalu tepat waktu baik bobo siang ataupun mau mandi pagi & sore.

Keduanya mmepunyai semacam "keywords" untuk mengatakan sesuatu atau sekedar becanda dengan kakaknya, "sikopat-sikopat", "obli-obli", "bios" ada lagi "samaa dong..", kata-kata ini hampir menghiasai setiap harinya. Saya tidak mengerti arti dan maksud dari kata-kata ini, mungkin ini "bahasa" mereka berdua. Kalo kata terakhir mungkin karena keduanya memiliki kasamaan (karena kembar) termasuk kadang pakaian, maka sering mereka berdua bilang "..samaaa dong..!". Yang paling lucu mungkin si Nabila, pernah suatu saat saya menanyakan ke dia.

Ayah: "Bila mau ke solo gak?"
Nabila : "Mau dong!"
Ayah : Kalo ke solo maunya naik apa?
Nabila : Nabila kalo ke solo maunya naek mobil ah..
Ayah : Terus naik apa?
Nabila : Nabila gak mau naek pecawat..gak bisa tuyun.. kan di atas teyus..

Mendengar jawaban ini saya baru ngeh, karena selama ini saya dan nyonyah selalu memperlihatkan kalo pas pesawat terbang di udara selalu bilang ke si kembar. "Kembar itu ada pesawat tuh..". Otomatis si kembar selalu mendongak ke atas sambil melihat pesawat terbang. Jadi dalam pikiran mereka mungkin pesawat terbang tidak pernah/bisa turun.

Ayah: Kembar...ayah mau kerja nih..
(Keduanya menghampiri ke saya sambil mencium tangan saya)
Ayah: Ayah berangkat dulu ya..cium dulu dong!
Nabila : 'Enggak ah! Ayah ada kumisna..(kumisnya)
Ayah : Emang kenapa?
Nabila: Nabila gak mau..kumis ayah geyi (geli)..
Mendengar jawaban tadi saya langsung ketawa sendiri....

Dasar anak kecil.......
Sekarang suasana rumah semakin ramai, dengan omongan ketiga buah hatiku ini. Sepertinya rasa capek menjadi hilang disaat beban kerja semakin berat, dengan hadirnya canda tawa dengan ketiga buah hatiku ini.

Jumat, 14 Desember 2007

jangan bobo dulu ya!



Sebuah pekerjaan kalo kita jadikan beban maka akan terasa berat, tetapi kalo kita jadikan sebagai kebiasaan/sebagai ibadah maka akan tidak berasa walaupun pekerjaan itu berat sekalian. Resiko..biasanya akibat dari sebuah pekerjaan atau akibat dari tindakan, inilah yang akan aku tulis di blog ini.

Mungkin setiap orang mempunyai intensitas lain terhadap hubungan dengan anak, temen atau mungkin juga dengan orang tua bahkan dengan istrinya sendiri. Dan setiap profesi tentunya juga akan berakibat dengan pola kebiasaan ini, bisa kita ambil contoh seorang wartawan tentunya jam kerjanya tidak sama dengan "orang kantoran" yang mungkin jam 10 malam masih meliput berita atau jam 12 malam masih membikin naskah berita yang tentunya masih berada di tempat kerja. Bahkan bisa paginya baru pulang ke rumah untuk istirahat dan berkumpul dengan anak istri (kalo istrinya di rumah..kalo istrinya bekerja?, kalo anaknya sekolah?) ini pasti lain ceritanya. Saya tidak mau menganalogikan terhadap profesi lain tetapi pada intinya hampir sama dengan yang saya alami kemarin.

Seperti biasanya kalo kita lihat behaviour dan aktivitas jakarta begitu padat mulai dari senin hingga jumat, bahkan sampai hari libur. Sampai saya bisa berkesimpulan kalo hari senin pagi berangkat kerja jalanan macet pulangnya lancar, kalo jumat pagi jalannya lancar pulang kerja macet.Kesimpulan ini bisa ditarik karena sehari-hari memang begini adanya, tetapi saya tak kurang akal bagaimana mensiasati keadaan ini, akhirnya kalo hari senin dan jumat bisa dipastikan berangkat kerja naik motor, selanjutnya hari selasa sampai kamis bawa mobil karena biasanya di 3 hari ini jalanan lancar.

Kejadian kemarin mungkin tidak terulang seandainya saya pulang kerja "on time", tetapi ini sekali lagi resiko sebuah profesi ya harus kita jalani, jadi mulai dari senin sampai rabu, minggu ini saya disibukkan oleh aktivitas kantor yang begitu padat, dari bikin FA print ad ternyata masih di revisi lagi dan masih banyak yang perlu diselesaikan mengingat dateline yang mempet, akhirnya selama 3 hari berturut-turut pulang malam. Ini berdampak pada si kembar dan kakaknya nasywa ketika saya nyampe rumah ketiganya sudah terlelap.Kebiasaan ini yang tidak bisa ditolerir..

Esoknya hari kamis, sekali lagi saya tidak kekuarangan akal. Dengan mengendarai motor berangkat ke kantor dengan asumsi kalo gak begitu banyak kerjaan akan "tango" lebih cepat untuk bertemu dengan ketiga buah hati, meskipun jalanan macet saya bisa selap-selip kira-kanan.

Rencana boleh demikian tetapi kenyataan lain, kali ini bukan banyaknya kerjaan yang bikin untuk pulang malam lagi tetapi dipaksa oleh keadaan cuaca yang tidak bersahabat, ya..tidak bersahabat. Bagaimana tidak mulai jam 4 sore jakarta sudah diguyur hujan, sementara saya mulai jam 4 sore sudah pingin pulang. Nekad.. pulang basah! gak nekad pulang perasan makin resah!. Jam 05.15 sore akhirnya saya "cklok" absen. Celana panjak di tarik sedengkul, sepatu diganti sandal hendak ke parkiran sepeda motor dengan diiringi hujan besar. Sebelum memanasin mesin terlebih dulu membuka jok motor untuk mengambil jas hujan...memang lagi apes!, ternyata jas hujan gak di bawa alias gak ada alias tertinggal di rumah! Mosok harus nunggu hujan reda trus kapan nyampe rumah, bisa jadi si kembar sudah bobo.
Akhirnya dengan tanpa jas hujan hanya berbekal jacket saya paksakan untuk pulang, diiringi hujan besar langsung tancap gas untuk pulang ke rumah (Cibubur) yang berjarak -+27 km atau sekitar 1 jam waktu tempuh apabila jalanan gak begitu macet.
Biarpun bibir mulai membiru, kulit jemari mengeriput, badan dan kaki mulai kedinginan, sepeda motor jalan terus. hanya satu tujuan pingin bermain dengan si kembar & nasywa.

Akhirnya sampai di rumah jam 06.45 petang, klakson motor kubunyikan berulang kali, perasan lega bercampur haru ketika si Nasywa membukakan pintu rumah diiringi si kembar di belakangnya. "Ibuuu ayah kehujanan.." itulah yang diucapkan Nasywa. Tak berapa lama saya langsung mandi, sholat maghrib terus di bikinin teh hangat dan indomie rebus, ah...semakin terasa kehangatan rumah tangga. Bermain dan bercanda dengan ketiga buah hati hampir 2 jam cukup sebagai selimut disaat kita kedinginan ingin bertemu dengan Nasywa, Nadira dan Nabila.Sampai jam 09.30 malem akhirnya ketiga buah hatiku mulai bobo, rasanya hatiku puas, dingin ku terobati oleh hangatnya canda dan tawa ketiga buah hatiku. Jangan bobo dulu ya..ayah masih kangen nih..